Meneguhkan Persahabatan Strategis Indonesia–China Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Oleh: Muhammad Arif Saputra*

Tahun 2025 menjadi momentum istimewa bagi hubungan diplomatik Indonesia dan China yang resmi memasuki usia ke-75 tahun. Perjalanan panjang ini bukan sekadar catatan sejarah diplomasi, tetapi juga refleksi atas kemitraan yang telah bertransformasi menjadi hubungan strategis di berbagai bidang. Sejak 13 April 1950, kedua negara terus membangun fondasi kerja sama yang kuat, tidak hanya dalam ranah perdagangan dan ekonomi, tetapi juga di bidang energi, infrastruktur, riset, hingga pertukaran budaya. Bahkan, menurut Presiden Prabowo Subianto, hubungan ini jauh lebih tua daripada pembukaan hubungan diplomatik formal, karena akar interaksi kedua bangsa telah terbentuk sejak masa kerajaan dan pelayaran Laksamana Cheng Ho yang meninggalkan jejak sejarah di Nusantara.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemitraan Indonesia–China merupakan salah satu pilar penting perdamaian dan stabilitas kawasan. Pilihan untuk menjadikan China sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertama pascapelantikan bukanlah kebetulan, melainkan penegasan atas nilai strategis hubungan ini. Dengan China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia selama satu dekade terakhir, potensi yang dimiliki kedua negara sangat besar untuk terus berkembang. Volume perdagangan yang meningkat dari USD 50 miliar pada 2013 menjadi USD 150 miliar pada 2022 adalah bukti bahwa hubungan ini tidak hanya berjalan, tetapi melesat.

Komitmen serupa datang dari Presiden China Xi Jinping yang melihat hubungan kedua negara sebagai contoh kerja sama saling mendukung dalam visi pembangunan masing-masing. Pernyataan ini relevan di tengah agenda global menuju pembangunan berkelanjutan, di mana Indonesia dan China memiliki kesamaan pandangan tentang pentingnya transisi energi. Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, menilai perayaan 75 tahun hubungan diplomatik sebagai momentum tepat untuk memperkuat kemitraan dalam pembangunan hijau. Dengan potensi 333 GW proyek energi terbarukan yang layak dikembangkan, kolaborasi dengan China—pemimpin global dalam manufaktur energi bersih—dapat menjadi katalis menuju target Nol Emisi Bersih pada 2060.

Kerja sama ini pun tak hanya terfokus pada proyek besar di tingkat pemerintah, tetapi juga pada riset dan inovasi. Kolaborasi penelitian laut dalam antara BRIN, UI, ITB, UGM, dan lembaga riset China seperti Second Institute of Oceanography menunjukkan bahwa kedua negara memiliki visi yang sama untuk memperluas kerja sama ilmiah. Penelitian ini bukan sekadar pengumpulan data, tetapi juga transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam jangka panjang, upaya ini akan memperkuat ketahanan bangsa terhadap ancaman bencana alam dan memperkaya basis pengetahuan nasional.

Bidang otomotif menjadi contoh lain dari sinergi yang produktif. Industri kendaraan listrik asal China semakin menancapkan pengaruhnya di Indonesia, seiring dengan komitmen pemerintah untuk mencapai 2 juta unit kendaraan listrik pada 2030. Kehadiran merek-merek besar seperti Wuling, BYD, Chery, dan SERES membuktikan daya tarik pasar Indonesia yang semakin kompetitif. Bahkan, pabrik SERES di Serang, Banten, telah memproduksi mobil untuk pasar domestik dan ASEAN, mencerminkan integrasi ekonomi yang menguntungkan kedua belah pihak.

Presiden SERES Automotive, Leon He, menyebut Indonesia sebagai pasar strategis dengan potensi ekonomi yang besar, sekaligus mitra penting bagi Tiongkok di Asia Tenggara. Dukungan penuh dari Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, dan Ketua KIKT Boy Thohir terhadap ekspedisi darat “Open the Way with AITO” menjadi simbol eratnya hubungan industri, diplomasi, dan masyarakat. Boy Thohir bahkan melibatkan figur publik dan generasi muda untuk memperkenalkan kemajuan teknologi Tiongkok sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap hubungan bilateral ini.

Di balik pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi, hubungan Indonesia–China juga sarat makna geopolitik. Dengan posisi strategis di Asia Tenggara, Indonesia menjadi mitra kunci dalam inisiatif Belt and Road (BRI). Laporan BRI Investment 2024 menunjukkan bahwa Indonesia menerima investasi senilai USD 9,3 miliar, menjadikannya penerima utama di kawasan. Investasi ini bukan hanya soal membangun jalan atau pelabuhan, tetapi juga diarahkan pada proyek-proyek hijau yang mendukung dekarbonisasi dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Arief Rosadi dari IESR menegaskan bahwa dialog antar masyarakat harus menjadi pilar tambahan dalam hubungan ini. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman dari transformasi ekonomi hijau di China dapat menginspirasi para pemangku kepentingan di Indonesia untuk mengadopsi praktik berkelanjutan. Inilah bentuk kerja sama Selatan–Selatan yang tidak hanya membicarakan perdagangan, tetapi juga membangun masa depan bersama.

Empat nota kesepahaman yang ditandatangani saat kunjungan PM Li Qiang ke Jakarta menjadi tonggak baru dalam memperluas ruang kerja sama. Mulai dari penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral, penguatan rantai pasok industri, hingga program “Two Countries Twin Parks” yang menghubungkan kawasan industri di kedua negara, semuanya diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Sejarah 75 tahun hubungan Indonesia–China mencerminkan filosofi peribahasa Tiongkok, Gé gù dǐng xīn—meninggalkan yang lama, membangun yang baru. Kedua negara telah menunjukkan kemampuan untuk memperbarui hubungan sesuai perkembangan zaman, dari diplomasi pascaperang hingga kolaborasi teknologi mutakhir. Kini, tantangannya adalah memastikan bahwa kemitraan ini terus relevan di tengah perubahan global, memberikan manfaat nyata bagi rakyat, dan menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Persahabatan yang dibangun atas dasar saling percaya dan saling menguntungkan ini harus terus dirawat. Seiring Indonesia menatap visi menjadi ekonomi terbesar keempat dunia pada 2045, dukungan dan kerja sama dengan mitra strategis seperti China akan menjadi salah satu penentu keberhasilan. Hubungan ini bukan hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga warisan bagi generasi mendatang. Dan di tengah semangat perayaan 75 tahun ini, Indonesia dan China telah menunjukkan kepada dunia bahwa kemitraan sejati adalah yang tumbuh, beradaptasi, dan memberi dampak positif lintas generasi.

*Penulis merupakan Jurnalis Ekonomi di Harian Nasional

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top