Oleh: Dian Kusuma Putri*
Kerja sama Indonesia–China sering kali dibicarakan dalam konteks perdagangan, investasi, atau infrastruktur. Namun, ada satu bidang yang kian menunjukkan perannya sebagai pilar strategis hubungan kedua negara: penelitian laut dalam. Kolaborasi ilmiah ini bukan hanya memperkuat kapasitas sains, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi yang mempererat kepercayaan dan kepentingan bersama.
Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki wilayah laut yang kaya namun sebagian besar masih belum terpetakan secara detail. Di sisi lain, Tiongkok memiliki teknologi dan sumber daya penelitian kelautan yang maju, termasuk kapal riset laut dalam, peralatan pemetaan, dan robot bawah laut. Kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi Indonesia, dan lembaga riset Tiongkok telah membuka jalan bagi eksplorasi dan pemahaman yang lebih dalam terhadap potensi maritim kita.
Penelitian laut dalam memiliki implikasi yang luas. Dari sisi ekologi, eksplorasi ini dapat mengungkap keanekaragaman hayati yang belum pernah tercatat sebelumnya, memberikan data penting untuk upaya konservasi, dan membantu memitigasi dampak perubahan iklim. Dari sisi ekonomi, hasil riset dapat memandu pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, termasuk potensi energi terbarukan dari gelombang laut atau panas bumi bawah laut.
Lebih jauh, kerja sama ini juga berperan sebagai diplomasi ilmiah. Di tengah ketegangan geopolitik di kawasan, proyek penelitian bersama menjadi ruang netral di mana ilmuwan dari kedua negara dapat bekerja bahu-membahu tanpa terbebani oleh dinamika politik. Diplomasi ilmiah seperti ini membangun kepercayaan jangka panjang, yang pada akhirnya mendukung stabilitas kawasan.
Pentingnya kolaborasi ini juga terkait dengan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Untuk mewujudkan visi tersebut, Indonesia membutuhkan mitra yang memiliki keahlian dan teknologi yang dapat mempercepat penguasaan ilmu pengetahuan maritim. Tiongkok, dengan pengalaman riset laut dalamnya, dapat menjadi katalis dalam percepatan transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM Indonesia.
Selain itu, kerja sama riset laut dalam dapat melibatkan generasi muda ilmuwan Indonesia. Program magang, pelatihan lapangan, dan riset bersama akan membekali mereka dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Keterlibatan aktif generasi muda dalam riset ini juga memastikan keberlanjutan pengetahuan dan semangat eksplorasi di masa depan.
Kerja sama di bidang ini perlu dikelola dengan prinsip saling menghormati kedaulatan, transparansi data, dan pembagian manfaat yang adil. Dengan prinsip ini, penelitian laut dalam dapat menjadi model kerja sama ilmiah yang tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi pengetahuan global tentang lautan.
Jika jalur sutra dulu menghubungkan bangsa-bangsa melalui perdagangan rempah, maka jalur riset laut dalam ini menghubungkan bangsa melalui pengetahuan. Di era ketika tantangan lingkungan semakin mendesak, pengetahuan menjadi komoditas yang nilainya tidak ternilai. Indonesia dan China, melalui kolaborasi di laut dalam, memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan diplomasi dapat berjalan seiring, menciptakan manfaat bersama, dan meninggalkan warisan positif bagi generasi mendatang.
*Penulis merupakan Koordinator Program Lingkungan di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)

