MBG Ramadan Hadirkan Disiplin Gizi di Bulan Suci

Oleh : Revy Adriana )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan Ramadan menghadirkan wajah kebijakan publik yang bukan sekadar responsif, tetapi juga visioner dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini. Di tengah dinamika ibadah puasa yang menuntut pengendalian diri, disiplin waktu, dan ketahanan fisik, kehadiran MBG justru memperkuat makna Ramadan sebagai momentum pembinaan lahir dan batin. Program ini tidak hanya memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi seimbang saat sahur dan berbuka, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif bahwa disiplin gizi merupakan bagian tak terpisahkan dari ibadah itu sendiri. Ketika negara hadir menjamin kecukupan nutrisi, pesan yang disampaikan bukan semata tentang makanan gratis, melainkan tentang komitmen membangun generasi sehat, kuat, dan berdaya saing.

Ramadan kerap identik dengan perubahan pola makan yang drastis. Waktu makan yang terbatas, kecenderungan mengonsumsi makanan tinggi gula saat berbuka, hingga potensi penurunan energi di siang hari menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi anak-anak usia sekolah. Dalam konteks ini, MBG menjadi instrumen strategis untuk menjaga keseimbangan nutrisi. Menu yang dirancang dengan komposisi karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, serat, serta vitamin dan mineral membantu tubuh tetap bugar sepanjang hari. Disiplin gizi di bulan suci bukan berarti mengurangi kenikmatan berbuka, melainkan mengelola asupan secara cerdas agar ibadah berjalan optimal dan aktivitas belajar tetap produktif. Dengan pendekatan ini, Ramadan tidak lagi dipandang sebagai bulan yang melemahkan fisik, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter sehat.

Lebih jauh, MBG Ramadan memperkuat pesan bahwa ketahanan pangan dan kesehatan publik saling berkaitan erat. Ketika jutaan porsi makanan bergizi disalurkan secara terstruktur, dampaknya bukan hanya pada penerima manfaat, tetapi juga pada rantai pasok pangan lokal. Keterlibatan petani, peternak, pelaku UMKM katering, hingga distribusi logistik menciptakan efek berganda terhadap ekonomi daerah. Di bulan suci yang identik dengan solidaritas sosial, MBG menjadi wujud gotong royong modern: negara, pelaku usaha, dan masyarakat bergerak bersama memastikan tidak ada anak yang berpuasa dalam kondisi kekurangan gizi. Di sinilah disiplin gizi bertemu dengan disiplin tata kelola, menghadirkan kebijakan yang terukur sekaligus menyentuh nilai kemanusiaan.

Menteri Kordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan selama bulan Ramadan, pola distribusi MBG akan dilakukan penyesuaian. MBG dibagi dalam bentuk makanan kering yang bisa dikondisikan saat buka atau sahur. Fleksibilitas tersebut justru memperkuat esensi disiplin gizi di bulan suci, karena keluarga dapat merencanakan asupan secara lebih terukur dan tidak terburu-buru.

Selain itu, aspek edukatif dari MBG juga patut diapresiasi. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan baik, termasuk pola makan sehat. Melalui sosialisasi menu seimbang dan pengawasan kualitas pangan, anak-anak belajar mengenali pentingnya protein untuk pertumbuhan, zat besi untuk mencegah anemia, serta cairan yang cukup untuk menjaga konsentrasi. Kebiasaan ini, jika ditanamkan secara konsisten, akan membentuk generasi yang lebih sadar kesehatan bahkan setelah Ramadan berakhir. Dengan kata lain, MBG tidak berhenti sebagai program musiman, melainkan menjadi pintu masuk transformasi perilaku gizi jangka panjang.

Sementara itu, Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan pihaknya meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih kreatif dalam mengolah pangan lokal. Selain itu, mengurangi penggunaan produk pabrikan atau ultra processed food (UPF) pada program makan bergizi gratis (MBG) selama Ramadan. Selain itu, menu berbasis kearifan lokal perlu diperbanyak agar penyajian MBG tetap sehat dan aman dikonsumsi saat bulan puasa.

Narasi positif yang mengiringi pelaksanaan MBG Ramadan juga memperkuat optimisme publik terhadap arah pembangunan nasional. Investasi terbesar sebuah bangsa adalah manusia, dan kualitas manusia ditentukan salah satunya oleh status gizi. Ketika pemerintah menempatkan pemenuhan gizi sebagai prioritas, terutama di momen sakral seperti Ramadan, pesan strategisnya jelas: pembangunan tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur biologis dan intelektual generasi muda. Disiplin gizi di bulan suci menjadi simbol bahwa penguatan spiritual berjalan seiring dengan penguatan fisik.

Tentu, setiap program berskala besar memerlukan pengawasan dan evaluasi berkelanjutan. Namun, semangat yang dibawa MBG Ramadan menunjukkan bahwa kebijakan publik dapat dirancang selaras dengan nilai budaya dan religius masyarakat. Puasa mengajarkan pengendalian diri; MBG mengajarkan pengelolaan asupan yang bijak. Puasa menumbuhkan empati; MBG menghadirkan solusi konkret bagi mereka yang membutuhkan. Kombinasi ini menjadikan Ramadan bukan hanya bulan ibadah personal, tetapi juga bulan penguatan fondasi kesehatan nasional.

Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan Ramadan adalah refleksi dari visi besar membangun generasi emas yang sehat, cerdas, dan berakhlak. Disiplin gizi bukan sekadar anjuran medis, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif. Ketika anak-anak mampu menjalani puasa dengan tubuh yang tetap kuat dan pikiran yang fokus, kita sedang menyemai masa depan yang lebih cerah. Ramadan pun menjadi momentum strategis untuk menegaskan bahwa kesehatan adalah prasyarat kemajuan, dan melalui MBG, disiplin gizi di bulan suci menjelma menjadi gerakan bersama menuju Indonesia yang lebih tangguh dan sejahtera.

)* Penulis merupakan Pengamat Gizi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top