Hilirisasi Dorong Pusat Pertumbuhan Baru di Luar Pulau Jawa

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global.

“Di tengah tekanan global yang tidak ringan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan konsisten di atas 5%. Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik kita solid dan kebijakan yang ditempuh Pemerintah berjalan efektif,” ujar Airlangga.

Kinerja tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya realisasi investasi dan kontribusi hilirisasi terhadap perekonomian. Pada Semester I-2026, investasi nasional mencapai Rp1.010,6 triliun, dengan investasi di luar Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2 persen dari total investasi. Sementara itu, investasi sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun. Kondisi ini memperlihatkan semakin kuatnya peran kawasan di luar Jawa dalam menopang pertumbuhan nasional.

Dari sisi perencanaan pembangunan, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy melihat pengembangan kawasan industri sebagai bagian penting dalam memperkuat rantai nilai ekonomi nasional. Menurutnya, pembangunan kawasan industri harus terintegrasi dengan agenda pembangunan nasional agar hilirisasi tidak berhenti pada aktivitas pengolahan, tetapi mampu membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

“Seluruh proyek prioritas nasional harus selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 sebagai landasan Pembangunan Indonesia,” kata Rachmat.

Perkembangan tersebut mendapat perhatian positif dari dunia usaha. Wakil Ketua Umum Bidang Keanggotaan Kadin Indonesia Widiyanto Saputro menilai program hilirisasi pemerintah telah memasuki tahap implementasi dan mulai menghasilkan dampak nyata bagi perekonomian.

“Nilai hilirisasi nikel ini salah satu yang fenomenal setelah berdekade-dekade kita tidak melaksanakan industrialisasi di bidang sumber daya alam. Nilainya mencapai Rp 510 triliun dengan lonjakan sekitar 300%, dari hampir US$ 1 miliar menjadi US$ 3,8 miliar,” ujar Widiyanto.

Ia menilai perkembangan hilirisasi kini semakin menyebar ke berbagai wilayah. Produksi industri hilirisasi di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah bahkan disebut telah melampaui Sulawesi Tenggara yang sebelumnya menjadi salah satu pusat utama industri nikel. Investasi hilirisasi bauksit di Kalimantan juga terus berkembang dan mencapai Rp53 triliun pada Semester I-2026.

“Indonesia ini luas. Jangan hanya melihat Jawa. Potensi di luar Jawa sangat besar. Hilirisasi memberikan bukti bahwa pertumbuhan ekonomi di luar Jawa bisa jauh lebih besar dan memiliki prospek pertumbuhan yang sangat menjanjikan,” ucap Widiyanto.

Konsistensi pemerintah dalam menjaga iklim investasi, memperkuat kawasan industri, dan mendorong pengolahan sumber daya di dalam negeri menjadi fondasi penting bagi agenda tersebut. Dengan hilirisasi yang terus diperluas secara terarah, Indonesia berpeluang memperkuat daya saing sekaligus melahirkan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jawa, sehingga pembangunan nasional semakin merata dan manfaat pertumbuhan ekonomi semakin luas dirasakan masyarakat.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top