
Jakarta – Pemerintah menilai kondisi perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kondisi tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka. Pertemuan tersebut membahas perkembangan ekonomi nasional menjelang akhir tahun sekaligus evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo.
“Bapak Presiden memanggil tim ekonomi, terutama untuk meng-update situasi perekonomian akhir tahun ini. Tadi kami sampaikan bahwa kondisi makroekonomi relatif stabil,” kata Airlangga.
Ia menjelaskan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 3 persen. Capaian tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan tertinggi di G20 dan ASEAN, didukung kinerja investasi serta penguatan sektor produktif.
Pemerintah juga akan mendorong peningkatan ekspor di seluruh sektor, termasuk manufaktur, serta mengatasi berbagai hambatan ekspor melalui satuan tugas yang ditugaskan Presiden Prabowo.
“Sehingga, berbagai hal yang bisa mengurangi ekspor nanti akan kita debottlenecking yang sudah diberikan penugasan oleh Bapak Presiden melalui satgas,” kata Airlangga.
Sementara itu, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut ketidakpastian ekonomi global masih berlangsung akibat dinamika di Amerika Serikat dan Eropa. Meski demikian, kondisi makroekonomi dan aktivitas transaksi masyarakat Indonesia dinilai tetap resilien.
“Kami melaporkan kepada Bapak Presiden kondisi ekonomi makro Indonesia masih sangat resilien. Kondisi transaksi di masyarakat juga masih sangat resilien. Jadi, kita akan terus menjaga stabilitas ke depan dan tetap mendorong pertumbuhan,” kata Suahasil.
Senada, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih baik meskipun rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia relatif solid dibandingkan negara-negara lain.
“Kami di Bank Indonesia tugas kami menjaga stabilitas rupiah. Jadi kalau kita lihat pergerakan rupiah kan memang sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke lah dibanding dengan peer group kita,” ujar Destry.
Ia menambahkan, fluktuasi rupiah merupakan hal wajar dalam mekanisme pasar yang dipengaruhi keseimbangan penawaran dan permintaan, persepsi pelaku pasar, serta sentimen global, termasuk kebijakan suku bunga AS. (*)
