Ketahanan Energi Makin Kuat: RDMP Balikpapan Diresmikan, Pasokan LPG dan BBM Lebih Andal

Oleh : Andhika Rachma )*

Peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) menjadi momen bersejarah bagi ketahanan energi Indonesia. Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka operasional modernisasi kilang minyak terbesar di Tanah Air ini, sebuah tonggak strategis dalam upaya memperkuat kedaulatan energi nasional. Dengan investasi total mencapai sekitar Rp123 triliun, RDMP Balikpapan kini berdiri sebagai simbol kemampuan Indonesia menangani dan memenuhi kebutuhan energi domestik secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Pembangunan proyek ini bukanlah inisiatif baru, melainkan buah dari kerja panjang sejak 2016 yang baru tuntas setelah hampir satu dekade. RDMP Balikpapan merupakan wujud modernisasi kilang minyak yang berada di Refineri Unit V Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan tujuan utama meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah, sekaligus menghasilkan produk bahan bakar dan energi berkualitas tinggi. Presiden Prabowo menegaskan bahwa peresmian RDMP ini merupakan proyek modernisasi dari kilang minyak yang diharapkan dapat mengurangi impor bahan bakar minyak BBM sehingga dapat menghemat devisa.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan merupakan fondasi penting untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi, Pertamina memastikan keandalan pasokan minyak mentah dan operasional kilang yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Dengan kapasitas pengolahan mencapai 360.000 barel per hari, RDMP Balikpapan mampu memenuhi sekitar seperempat dari kebutuhan BBM nasional. Angka ini menunjukkan pergeseran besar dari ketergantungan impor ke produksi dalam negeri, sekaligus menghemat devisa negara yang sebelumnya harus dialokasikan untuk impor bahan bakar.

Salah satu elemen kunci dari RDMP Balikpapan adalah fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex yang disebut sebagai jantung modernisasi. RFCC Complex memungkinkan kilang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bernilai tinggi seperti bensin berkualitas tinggi, diesel, dan LPG. Bahkan, dengan hadirnya RFCC, kilang kini mampu memproduksi BBM yang ramah lingkungan sesuai standar Euro 5, yang jauh lebih bersih dibandingkan standar sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam menerapkan teknologi pengolahan yang modern sekaligus ramah lingkungan.

Salah satu sektor yang mendapat manfaat besar dari modernisasi ini adalah pasokan LPG (Liquefied Petroleum Gas). Sebelumnya, Indonesia masih bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, produksi LPG diperkirakan mencapai sekitar 336 ribu ton per tahun, jumlah yang diproyeksikan mampu memperkuat pasokan domestik dan mengurangi ketergantungan pada LPG impor. Ini tentu menjadi kabar baik bagi masyarakat, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan energi rumah tangga dan industri.

Wakil Menteri ESDM Yuliot mengungkapkan, hasil produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari RU V Balikpapan ini akan langsung disalurkan kepada masyarakat. Proyek RDMP ini juga sebagai bentuk komitmen Pemerintah melalui badan usaha Pertamina untuk mencukupi ketahanan dan swasembada energi, dan mencukupi kebutuhan energi bagi masyarakat Indonesia.

Tidak hanya LPG dan BBM, kilang modern ini juga mampu memproduksi produk petrokimia bernilai tinggi seperti propylene dan sulfur, yang sebelumnya tidak dihasilkan di fasilitas ini. Produk petrokimia ini menjadi komoditas penting untuk berbagai industri, dari plastik hingga sektor kimia lain yang semakin berkembang di Indonesia. Keberadaan fasilitas modern seperti RDMP Balikpapan membuka peluang baru bagi hilirisasi industri petrokimia nasional, sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dari sekadar penyediaan energi.

Selain manfaat langsung dari sisi produksi, RDMP Balikpapan juga dipandang sebagai fondasi penting menuju ketahanan dan kemandirian energi nasional. Pertamina selaku operator proyek ini menegaskan bahwa RDMP tidak semata meningkatkan kapasitas kilang, tetapi juga memastikan keandalan pasokan energi melalui infrastruktur yang terintegrasi, mulai dari pemasokan bahan baku minyak mentah, infrastruktur pipa, hingga distribusi produk akhir ke seluruh penjuru nusantara. Langkah ini selaras dengan visi pemerintah dan Pertamina dalam mencapai kemandirian energi yang berkelanjutan.

Dampak ekonomi yang dihasilkan dari modernisasi kilang ini juga tidak bisa diabaikan. Proyek RDMP Balikpapan diperkirakan dapat menghemat biaya impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Penghematan tersebut menjadi sumber daya ekonomi yang dapat dialokasikan untuk pengembangan sektor lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur publik lainnya, memperkuat fondasi pembangunan nasional secara menyeluruh.

Peresmian RDMP Balikpapan juga menandai berakhirnya periode panjang tanpa peresmian besar di sektor kilang minyak Indonesia; terakhir kali revitalisasi kilang dilakukan pada tahun 1994 di Kilang Balongan, Jawa Barat. Kini, setelah lebih dari tiga dekade, Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan fasilitas energi modern yang mampu menjawab tantangan kebutuhan energi masa depan.

Secara keseluruhan, peresmian RDMP Balikpapan bukan hanya soal membuka fasilitas kilang baru, tetapi tentang strategi besar negara dalam memperkuat ketahanan energi, menjaga kemandirian, dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui teknologi dan inovasi pengolahan energi. Keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi contoh dan fondasi kuat bagi langkah-langkah strategis Indonesia selanjutnya di sektor energi, sambil terus memastikan pasokan LPG dan BBM yang lebih andal bagi seluruh masyarakat Indonesia.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top